Translate

Cari Blog Ini

Kamis, 11 Februari 2016

laporan observasi

LAPORAN OBSERVASI DI PAUD R.A. KARTINI


Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya lah saya dapat menyelesaikan laporan ini yaitu laporan hasil observasi mengenai prinsip-prinsip pembelajaran di PAUD Raden Ajeng Kartini di desa Jeruk Tipis Kec. Kragilan Kab. Serang. Tentu kita sebagai calon pendidik untuk anak usia dini harus mengetahui bagaimana menciptakan pembelajaran yang begitu  menarik dan efisien dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini.
Saya mohon maaf jika terdapat kesalahan baik dalam sistematika penulisan maupun hal lainnya di dalam laporan ini, karena pengalaman yang saya miliki masih sangat minim. Harapan saya  semoga dengan adanya laporan ini bisa menyadarkan kita betapa masih banyak Paud-Paud yang pembelajarannya tidak sesuai dengan yang diharapkan dan semoga ini bisa menjadi referensi untuk kita dalam memperbaikinya.






Serang 19 Desember 2015

Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan pada anak usia dini merupakan hal yang sangat penting dan berharga untuk dilalui karena pada usia itu (0-8 tahun) perkembangan otak manusia sangat pesat tidak hanya itu proses pembentukan karakter pun terjadi dalam usia ini, oleh karena itu kita harus mendidik anak-anak dengan baik dan tepat agar anak kelak menjadi manusia yang berkualitas, berkarakter dalam hal memiliki sikap  atau moral dan etika yang baik. Untuk mewujudkan hal itu dalam mendidik anak khususnya guru/pembimbing/tutor yang membelajarkan anak tentunya kita harus mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran pada anak usia dini yaitu belajar melalui bermain atau belajar seraya bermain, berorientasi pada perkembangan anak, berorientasi pada kebutuhan anak, berpusat pada anak, pembelajaran aktif,  berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter, berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup, didukung oleh lingkungan yang kondusif, dan banyak juga hal lainnya yang harus kita perhatikan seperti perhatian dan motivasi sebagai awal untuk menumbuhkan rasa semangat belajar pada anak.
Disini saya mengobservasi Paud Raden Ajeng Kartini yang terletak di desa Jeruk Tipis Kec. Kragilan untuk melihat apakah pembelajaran di lembaga ini sudah sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini atau tidak, Paud R.A. Kartini ini didirikan oleh Ibu Nurhasanah pada tahun 2012, beliau tidak memiliki latar belakang kependidikan dan hannya seorang ibu rumah tangga biasa akan tetapi melihat anaknya yang memiliki keterlambatan bicara serta memiliki gangguan perilaku membuat beliau tegugah untuk mendirikan paud agar anak-anak bisa terstimulasi dengan baik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini
2.      Bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran di PAUD RADEN AJENG KARTINI

C.     Manfaat Penulisan
1.   Untuk mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran pada anak usia dini
2. Untuk mengetahui serta menganalisis lebih jauh lagi mengenai prinsip-prinsip pembelajaran di PAUD Raden Ajeng Kartini








BAB II
LANDASAN TEORI

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran anak usia dini yaitu sebagai berikut :
1.      Belajar melalui bermain
anak dibawah usia 6 tahun berada pada masa bermain pemberian rangsangan pendidikan dengan cara yang tepat melalui bermain dapat memberikan pembelajaran yang bermakna pada anak karena bermain merupakan kegiatan yang paling diminati  anak. Saat bermain anak melatih otot besar dan kecil, melatih keterampilan berbahasa, menambah pengetahuan, melatih cara mengatasi masalah, mengelola emosi, bersosialisasi, mengenal matematika, sain, dan banyak hal lainnya.
Bermain bagi anak juga sebagai pelepasan energi, rekreasi, dan emosi. Dalam keadaan yang nyaman semua syaraf otak dalam keadaan rileks sehingga memudahkan menyerap berbagai pengetahuan dan membangun pengalaman positif. Dengan kegiatan pembelajaran melalui bermain mempersiapkan anak menjadi anak yang senang belajar.

2.      Berorientasi pada perkembangan anak
Setiap anak memiliki kecepatan dan irama perkembangan yang berbeda, namun demikian pada umumnya memiliki tahapan perkembangan yang sama. Pembelajaran PAUD, pendidik perlu memberikan kegiatan yang  sesuai dengan tahapan perkembangan anak, dan memberi dukungan sesuai dengan perkembangan masing-masing anak. Untuk itulah pentingnya pendidik memahami tahapan perkembangan anak. Dengan demikian pendidik harus mampu mengembangkan semua aspek perkembangan sesuai dengan tahapan usia anak.

3.      Berorientasi pada kebutuhan anak
Anak sebagai pusat pembelajaran. Seluruh kegiatan pembelajaran di rencanakan dan dilaksanakan untuk mengembangkan potensi anak. Dilakukan dengan memenuhi kebutuhan fisik dan psikis anak. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan sesuai dengan cara berpikir dan perkembangan kognitif anak. Pembelajaran PAUD bukan berorientasi pada keinginan lembaga/guru/orang tua. Dengan demikian pendidik harus mampu memberi rangsangan pendidikan atau stimulasi sesuai dengan kebutuhan anak termasuk anak –anak yang Mempunyai kebutuhan khusus.

4.      Berpusat pada anak
Pendidik harus menciptakan suasana yang bisa mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi, dan kemandirian sesuai dengan karakteristik, minat, potensi, tingkat perkembangan dan kebutuhan anak

5.      Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM)
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenagkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu pendidik harus mampu menciptakan suasana yang mendorong anak aktif mencari, Menemukan, menentukan pilihan, mengemukakan pendapat, dan melakukan serta mengalami sendiri Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan

6.      Berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter
Pemberian rangsangan Pendidikan diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter yang positif pada anak, pengembangan nilai-nilai karakter tidak dengan pembelajaran langsung, akan tetapi melalui pembelajaran untuk mengembangkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan serta melalui pembiasaan dan Keteladanan

7.      Berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup
Pemberian rangsangan pendidikan diarahkan untuk mengembangkan kemandirian anak, pengembangan kecakapan hidup dilakukan secara terpadu baik melalui pembelajaran untuk mengembangkan potensi pengetahuan dan keterampilan maupun melalui pembiasaan dan keteladanan.

8.      Didukung oleh lingkungan yang kondusif
Lingkungan merupakan guru ketiga bagi anak. Anak belajar kebersihan, kemandirian, aturan, dan banyak hal dari lingkungan bermain atau ruangan yang tertata dengan baik, bersih, nyaman, terang, aman, dan ramah untuk anak. Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar ruangan. Penataan ruang belajar harus disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain sehingga anak dapat berinteraksi dengan mudah baik dengan pendidik maupun dengan temannya. Lingkungan belajar hendaknya tidak memisahkan anak dari nilai-nilai budayanya, yaitu tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di rumah ataupun di lingkungan sekitar.

9.      Pemanfaatan media belajar, sumber belajar, dan narasumber penggunaan media belajar, sumber belajar dan narasumber yang ada dilingkungan paud bertujuan agar pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna. Termasuk narasumber adalah orang-orang dengan profesi tertentu yang dilibatkan sesuai dengan tema misalnya dokter, polisi, nelayan, dan petugas pemadam kebakaran. Piaget meyakini bahwa anak belajar banyak dari media dan alat yang digunakannya saat bermain, karena itu media belajar bukan hanya yang sudah jadi berasal dari pabrikan, tetapi juga segala bahanyang ada di sekitar anak, misalnya daun, tanah, batu-batuan, tanaman, dan sebagainya. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.
10.  Menggunakan pendekatan tematik
Kegiatan pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik yaitu menggunakan tema sebagai wadah guna mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan lingkungannya.
BAB III
ANALISIS HASIL OBSERVASI
     PROFIL PAUD

1.      Identitas lembaga pendidikan anak usia dini
Nama Paud                         : Raden Ajeng Kartini
Alamat                                : Kp. Luwung Semut Ds. Jeruk Tipis Kec. Kragilan
Didirikan tahun                  : 2012

2.      Perangkat pembelajaran
Jumlah Peserta Didik         : 21 anak
Jumlah Pendidik                 : 3 pendidik  
Hari Pembelajaran              : Senin s/d  jumat
Waktu Pembelajaran          : 08.00 – 10.15



Di bab sebelumnya sudah dijelaskan bahwa prinsip-prinsip pembelajaran pada anak usia dini yaitu meliputi :
1.      Belajar melalui bermain
2.      Berorientasi pada perkembangan anak
3.      Berorientasi pada kebutuhan anak
4.      Berpusat pada anak
5.      Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan  (PAKEM)
6.      Berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter
7.      Berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup
8.      Didukung oleh lingkungan yang kondusif
9.      Memanfaatkan potensi lingkungan
1.      Menggunakan pendekatan tematik

Marilah kita kaji satu persatu kesesuaian prinsip pembelajaran ini dengan pembelajaran di Paud R.A. Kartini :

1         Belajar melalui bermain, saya sudah lama mengamati paud ini dan setelah saya mengobservasi kembali, Paud R.A. Kartini ini tidak terlalu menggunakan prinsip pembelajaran ini. hal ini dikarenakan minimnya kreativitas dan wawasan yang dimiliki tenaga pengajar/tutor untuk membuat aktivitas pembelajaran menarik yang dilakukan sambil bermain dan pada saat observasi pembelajaran yang berlangsung begitu monoton, tenaga pengajar/tutor sering menggunakan metode berceramah yang menurut saya kurang cocok digunakan untuk anak-anak. Kemudian setelah istirahat kegiatannya selalu mewarnai gambar yang dibuat oleh pengajar/tutor dan hal ini juga menurut saya bisa mematikan daya kreativitas anak karena anak nantinya tidak bisa menggambar sendiri. Tapi “tidak terlalu menggunakan prinsip ini” disini bukan berarti tidak memiliki prinsip akan tetapi Paud R.A. Kartini sebenarnya memiliki prinsip tersebut hanya saja pembelajaran dengan prinsip belajar melalui bermain ini dilakukan sesekali dalam seminggu. Hal ini terlihat pada saat saya melakukan observasi di hari senin anak-anak belajar dengan bermain diluar kelas dan mencari batu kecil yang nantiya digunakan untuk disusun menjadi huruf.
2          Berorientasi pada perkembangan anak, menurut saya prinsip ini wajib dimiliki oleh semua Paud karena pada dasarnya adanya lembaga paud bertujuan untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan yang dimiliki anak, akan tetapi dari hasil observasi telah ditemukan bahwa Paud R.A. Kartini memang memiliki prinsip pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan anak tapi dari yang saya lihat ada aspek perkembangan yang belum terlihat seperti perkembangan moral, masih banyak anak yang belum memiliki kesadaran didalam pembelajaran ada saja anak yang jajan sesuka hatinya mereka tidak peduli walaupun belum istirahat yang penting bagi mereka adalah melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Pengejar/tutor memang tidak memperbolehkan tapi setiap orang tua dari anak-anak itu selalu menuruti anaknya dan akhirnya dengan terpaksa tutor selalu memberikan izin. Tapi untuk aspek perkembangan lainnya seperti perkembangan kognitif, fisik-motorik, bahasa dan sosial sudah terlihat akan tetapi menurut saya pembelajarannya lebih dominan kearah kognitif.
3        Berorientasi pada kebutuhan anak, menurut saya Paud R.A. Kartini belum memiliki prinsip pembeajaran yang berorientasi pada kebutuhan anak karena dari yang saya lihat dalam pembelajarannya tidak sesuai dengan kebutuhan anak terlihat dari adanya kelas saja hanya ada satu dan itu berarti anak yang kisaran berusia 3-6 disatukan menjadi satu kelas dan juga bukan karena itu saja tapi juga adanya tempat yang terbatas (tidak memiliki gedung sendiri) dan jumlah siswa yang sedikit menjadi faktor kenapa kelas disatukan. Dari sini maka pembelajaran yang berlangsung sudah pasti tidak sesuai dengan kebutuhan anak karena pembelajaran yang dibagikan disamaratakan.
4         Berpusat pada anak, dengan menggunakan prinsip ini anak-anak akan menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran tapi yang saya lihat dari hasil observasi paud R.A. Kartini kurang begitu menggunakan prinsip pembelajaran yang berpusat pada anak karena pengajar sering menggunakan metode berceramah akhirnya keaktifan anak tidak terlihat,  tetapi saat observasi saya melihat setiap harinya dalam kegiatan pembelajaran pengajar menunjuk satu per satu anak unuk maju kedepan kelas dan meminta anak untuk berhitung atau membaca huruf/abjad, maupun bernyanyi, dan ternyata ada efek positif dari hal tersebut yaitu rata-rata anak menjadi berani bahkan mereka selalu ingin menjadi orang yang pertama ditunjuk oleh pengajar/tutor.
5            Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan  (PAKEM), dari hasil observasi yang saya lakukan Paud R.A. Kartini ini tidak menggunakan prinsip ini karena sudah jelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pembelajaran pada setiap harinya monoton dan hanya sesekali dalam seminggu terjadinya pembelajaran yang menyenangkan tapi dengan adanya anak-anak yang ingin selalu maju didepan kelas itu menunjukkkan bahwa anak-anak senang dengan aktivitas pembelajaran yang dilakukan.  
6            Berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter, setelah saya mengobservasi, saya tidak menemukan bahwa Paud R.A. Kartini memiliki prinsip yang berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter hal ini terlihat pada sikap anak-anak yang kurang mendapatkan stimulus terhadap perkembangan moralnya, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya masih ada banyak anak yang belum memiliki kesadaran didalam pembelajaran yang berlangsung selain jajan ada juga anak-anak yang selalu jalan-jalan saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
7            Berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup, dari yang saya lihat Paud R.A. Kartini belum menggunakan prinsip pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup karena sulit untuk menerapkannya apalagi masih ada beberapa anak yang masih harus didampingi oleh orang tuanya. Akan tetapi pernah saya melihat (walaupun itu bukan waktu saya untuk observasi) kegiatan pembelajaran pada saat itu menggunakan metode bermain peran meskipun sederhana yaitu dengan adanya media telur mainan dan bola mainan disitu anak-anak berperan menjadi penjual dan pembeli dan uang yang digunakan pun uang mainan, tapi dari situ kita bisa melihat bahwa hal itu juga sebenarnya merupakan pengembangan kecakapan hidup.
8              Didukung oleh lingkungan yang kondusif, meskipun lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan sehingga anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar ruangan dan penataan ruang belajarpun harus disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain akan tetapi sulit untuk mewujudkan hal itu karena Paud R.A. Kartini belum memiliki banyak fasilitas yang memadai untuk hal itu, ruang belajarnya saja berada di garasi tapi walaupun demikian masih ada sedikitnya fasilitas seperti ayunan dan jungkat-jungkit yang membuat anak-anak senang.
9         Memanfaatkan potensi lingkungan, dari hasil observasi Paud R.A. Kartini memiliki prinsip pembelajaran yang memanfaatkan potensi lingkungan hal ini terlihat dari adanya aktivitas yang dilakukan pada saat bermain diluar kelas dan mengambil batu-batu kecil itu untuk menyusun batu menjadi huruf tersebut. Disitu kita bisa melihat bahwa yang ada dilingkungan oleh pengajar dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran.
1             Menggunakan pendekatan tematik, dari hasil observasi yang saya lakukan, Paud R.A. Kartini tidak menggunakan pendekatan tematik seperti TK atau Paud lainnya. Tapi yang digunakan adalah dengan menggunakan mata pelajaran seperti pembelajaran yang selayaknya di SD, SMP, ataupun SMA. Walaupun demikian akan tetapi pelajaran yang diambil sesuai dengan usia anak. Jadwalnya meliputi : hari senin adalah pelajaran mengenal huruf/abjad/alphabet, dan selasa adalah pelajaran mengenal angka (berhitung), hari rabu pelajarannya adalah agama (mengenal huruf-huruf hijaiyah dan mengajarkan doa-doa), di hari kamis ada pelajaran olahraga (senam dan bermain), dan dihari jumat adalah lebih ke agama lagi yaitu belajar mengaji.



BAB IV
KESIMPULAN
Berawal dari seorang anak yang memiliki keterlambatan bicara dan gangguan perilaku membuat seorang ibu menjadi peduli terhadap anak-anak dan dengan usahanya Ibu Nurhasanah berhasil mendirikan Paud yang bernama RADEN AJENG KARTINI, karena keterbatasan kreativitas dan wawasan pengajar/tutor, dari kesemua prinsip pembelajaran yang ada sebenarnya Paud R.A. Kartini tanpa disadari sudah memiliki dan menggunakan prinsip-prinsip tersebut hanya saja ada satu prinsip yang belum dimiliki dan belum digunakan yaitu untuk memenuhi prinsip pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar