LAPORAN
OBSERVASI DI PAUD R.A. KARTINI
Kata Pengantar
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya lah
saya dapat menyelesaikan laporan ini yaitu laporan hasil observasi mengenai
prinsip-prinsip pembelajaran di PAUD Raden Ajeng Kartini di desa Jeruk Tipis
Kec. Kragilan Kab. Serang. Tentu kita sebagai calon pendidik untuk anak usia
dini harus mengetahui bagaimana menciptakan pembelajaran yang begitu menarik dan efisien dengan memperhatikan
prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini.
Saya mohon maaf jika terdapat
kesalahan baik dalam sistematika penulisan maupun hal lainnya di dalam laporan
ini, karena pengalaman yang saya miliki masih sangat minim. Harapan
saya semoga dengan adanya laporan ini bisa menyadarkan kita
betapa masih banyak Paud-Paud yang pembelajarannya tidak sesuai dengan yang
diharapkan dan semoga ini bisa menjadi referensi untuk kita dalam
memperbaikinya.
Serang
19 Desember 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan
pada anak usia dini merupakan hal yang sangat penting dan berharga untuk
dilalui karena pada usia itu (0-8 tahun) perkembangan otak manusia sangat pesat
tidak hanya itu proses pembentukan karakter pun terjadi dalam usia ini, oleh
karena itu kita harus mendidik anak-anak dengan baik dan tepat agar anak kelak
menjadi manusia yang berkualitas, berkarakter dalam hal memiliki sikap atau moral dan etika yang baik. Untuk
mewujudkan hal itu dalam mendidik anak khususnya guru/pembimbing/tutor yang
membelajarkan anak tentunya kita harus mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran
pada anak usia dini yaitu belajar melalui bermain atau belajar seraya bermain,
berorientasi pada perkembangan anak, berorientasi pada kebutuhan anak, berpusat
pada anak, pembelajaran aktif,
berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter, berorientasi pada
pengembangan kecakapan hidup, didukung oleh lingkungan yang kondusif, dan
banyak juga hal lainnya yang harus kita perhatikan seperti perhatian dan
motivasi sebagai awal untuk menumbuhkan rasa semangat belajar pada anak.
Disini
saya mengobservasi Paud Raden Ajeng Kartini yang terletak di desa Jeruk Tipis
Kec. Kragilan untuk melihat apakah pembelajaran di lembaga ini sudah sesuai
dengan prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini atau tidak, Paud R.A.
Kartini ini didirikan oleh Ibu Nurhasanah pada tahun 2012, beliau tidak
memiliki latar belakang kependidikan dan hannya seorang ibu rumah tangga biasa
akan tetapi melihat anaknya yang memiliki keterlambatan bicara serta memiliki
gangguan perilaku membuat beliau tegugah untuk mendirikan paud agar anak-anak
bisa terstimulasi dengan baik.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
saja prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini
2.
Bagaimana
prinsip-prinsip pembelajaran di PAUD RADEN AJENG KARTINI
C.
Manfaat
Penulisan
1. Untuk
mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran pada anak usia dini
2. Untuk
mengetahui serta menganalisis lebih jauh lagi mengenai prinsip-prinsip
pembelajaran di PAUD Raden Ajeng Kartini
BAB II
LANDASAN TEORI
Prinsip pembelajaran
yang digunakan dalam proses pembelajaran anak usia dini yaitu sebagai berikut :
1.
Belajar melalui bermain
anak
dibawah usia 6 tahun berada pada masa bermain pemberian rangsangan pendidikan
dengan cara yang tepat melalui bermain dapat memberikan pembelajaran yang
bermakna pada anak karena bermain
merupakan kegiatan yang paling diminati anak. Saat bermain anak melatih
otot besar dan kecil, melatih keterampilan berbahasa, menambah pengetahuan,
melatih cara mengatasi masalah, mengelola emosi, bersosialisasi, mengenal
matematika, sain, dan banyak hal lainnya.
Bermain bagi anak juga sebagai
pelepasan energi, rekreasi, dan emosi. Dalam keadaan yang nyaman semua syaraf
otak dalam keadaan rileks sehingga memudahkan menyerap berbagai pengetahuan dan
membangun pengalaman positif. Dengan kegiatan pembelajaran melalui bermain
mempersiapkan anak menjadi anak yang senang belajar.
2.
Berorientasi pada perkembangan anak
Setiap anak memiliki kecepatan dan
irama perkembangan yang berbeda, namun demikian pada umumnya memiliki tahapan
perkembangan yang sama. Pembelajaran PAUD, pendidik perlu memberikan kegiatan
yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, dan memberi dukungan sesuai
dengan perkembangan masing-masing anak. Untuk itulah pentingnya pendidik memahami
tahapan perkembangan anak. Dengan demikian pendidik harus mampu
mengembangkan semua aspek perkembangan sesuai dengan tahapan usia anak.
3.
Berorientasi pada kebutuhan anak
Anak sebagai pusat pembelajaran.
Seluruh kegiatan pembelajaran di rencanakan dan dilaksanakan untuk
mengembangkan potensi anak. Dilakukan dengan memenuhi kebutuhan fisik dan
psikis anak. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan
sesuai dengan cara berpikir dan perkembangan kognitif anak. Pembelajaran PAUD
bukan berorientasi pada keinginan lembaga/guru/orang tua. Dengan demikian pendidik
harus mampu memberi rangsangan pendidikan atau stimulasi sesuai dengan
kebutuhan anak termasuk anak –anak yang Mempunyai kebutuhan khusus.
4.
Berpusat pada anak
Pendidik
harus menciptakan suasana yang bisa mendorong semangat belajar, motivasi,
minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi, dan kemandirian sesuai
dengan karakteristik, minat, potensi, tingkat perkembangan dan kebutuhan anak
5.
Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan (PAKEM)
Proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dapat
dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang
menarik, menyenagkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak
untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran
hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam
proses pembelajaran. Oleh karena itu pendidik harus mampu menciptakan suasana
yang mendorong anak aktif mencari, Menemukan, menentukan pilihan, mengemukakan
pendapat, dan melakukan serta mengalami sendiri Pembelajaran aktif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan
6.
Berorientasi pada pengembangan
nilai-nilai karakter
Pemberian
rangsangan Pendidikan diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai yang membentuk
karakter yang positif pada anak, pengembangan nilai-nilai karakter tidak dengan
pembelajaran langsung, akan tetapi melalui pembelajaran untuk mengembangkan
kompetensi pengetahuan dan keterampilan serta melalui pembiasaan dan
Keteladanan
7.
Berorientasi pada pengembangan kecakapan
hidup
Pemberian
rangsangan pendidikan diarahkan untuk mengembangkan kemandirian anak,
pengembangan kecakapan hidup dilakukan secara terpadu baik melalui pembelajaran
untuk mengembangkan potensi pengetahuan dan keterampilan maupun melalui
pembiasaan dan keteladanan.
8.
Didukung oleh lingkungan yang kondusif
Lingkungan
merupakan guru ketiga bagi anak. Anak belajar kebersihan, kemandirian, aturan,
dan banyak hal dari lingkungan bermain atau ruangan yang tertata dengan baik,
bersih, nyaman, terang, aman, dan ramah untuk anak. Lingkungan pembelajaran
harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga
anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar
ruangan. Penataan ruang belajar harus disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam
bermain sehingga anak dapat berinteraksi dengan mudah baik dengan pendidik
maupun dengan temannya. Lingkungan belajar hendaknya tidak memisahkan anak dari
nilai-nilai budayanya, yaitu tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di
rumah ataupun di lingkungan sekitar.
9.
Pemanfaatan media belajar, sumber
belajar, dan narasumber penggunaan media belajar, sumber belajar dan narasumber
yang ada dilingkungan paud bertujuan agar pembelajaran lebih kontekstual dan
bermakna. Termasuk narasumber adalah orang-orang dengan profesi tertentu yang
dilibatkan sesuai dengan tema misalnya dokter, polisi, nelayan, dan petugas
pemadam kebakaran. Piaget meyakini bahwa anak belajar banyak dari media dan
alat yang digunakannya saat bermain, karena itu media belajar bukan hanya yang
sudah jadi berasal dari pabrikan, tetapi juga segala bahanyang ada di sekitar
anak, misalnya daun, tanah, batu-batuan, tanaman, dan sebagainya. Penggunaan
berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi
dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.
10.
Menggunakan pendekatan tematik
Kegiatan
pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik yaitu menggunakan
tema sebagai wadah guna mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan
lingkungannya.
BAB III
ANALISIS HASIL OBSERVASI
PROFIL
PAUD
1. Identitas
lembaga pendidikan anak usia dini
Nama Paud :
Raden Ajeng Kartini
Alamat :
Kp. Luwung Semut Ds. Jeruk Tipis Kec. Kragilan
Didirikan tahun :
2012
2. Perangkat pembelajaran
Jumlah
Peserta Didik : 21 anak
Jumlah
Pendidik : 3 pendidik
Hari
Pembelajaran : Senin s/d jumat
Waktu
Pembelajaran : 08.00 – 10.15
Di
bab sebelumnya sudah dijelaskan bahwa prinsip-prinsip pembelajaran pada anak
usia dini yaitu meliputi :
1.
Belajar melalui bermain
2.
Berorientasi pada perkembangan anak
3.
Berorientasi pada kebutuhan anak
4.
Berpusat pada anak
5.
Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan (PAKEM)
6.
Berorientasi pada pengembangan
nilai-nilai karakter
7.
Berorientasi pada pengembangan kecakapan
hidup
8.
Didukung oleh lingkungan yang kondusif
9.
Memanfaatkan potensi lingkungan
1. Menggunakan pendekatan tematik
Marilah kita kaji satu
persatu kesesuaian prinsip pembelajaran ini dengan pembelajaran di Paud R.A.
Kartini :
1 Belajar melalui bermain, saya sudah lama
mengamati paud ini dan setelah saya mengobservasi kembali, Paud R.A. Kartini
ini tidak terlalu menggunakan prinsip
pembelajaran ini. hal ini dikarenakan minimnya kreativitas dan wawasan yang
dimiliki tenaga pengajar/tutor untuk membuat aktivitas pembelajaran menarik
yang dilakukan sambil bermain dan pada saat observasi pembelajaran yang
berlangsung begitu monoton, tenaga pengajar/tutor sering menggunakan metode
berceramah yang menurut saya kurang cocok digunakan untuk anak-anak. Kemudian
setelah istirahat kegiatannya selalu mewarnai gambar yang dibuat oleh
pengajar/tutor dan hal ini juga menurut saya bisa mematikan daya kreativitas
anak karena anak nantinya tidak bisa menggambar sendiri. Tapi “tidak terlalu
menggunakan prinsip ini” disini bukan berarti tidak memiliki prinsip akan
tetapi Paud R.A. Kartini sebenarnya memiliki prinsip tersebut hanya saja
pembelajaran dengan prinsip belajar melalui bermain ini dilakukan sesekali
dalam seminggu. Hal ini terlihat pada saat saya melakukan observasi di hari
senin anak-anak belajar dengan bermain diluar kelas dan mencari batu kecil yang
nantiya digunakan untuk disusun menjadi huruf.
2 Berorientasi pada perkembangan anak, menurut
saya prinsip ini wajib dimiliki oleh semua Paud karena pada dasarnya adanya
lembaga paud bertujuan untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan yang
dimiliki anak, akan tetapi dari hasil observasi telah ditemukan bahwa Paud R.A.
Kartini memang memiliki prinsip pembelajaran yang berorientasi pada
perkembangan anak tapi dari yang saya lihat ada aspek perkembangan yang belum
terlihat seperti perkembangan moral, masih banyak anak yang belum memiliki
kesadaran didalam pembelajaran ada saja anak yang jajan sesuka hatinya mereka
tidak peduli walaupun belum istirahat yang penting bagi mereka adalah melakukan
sesuatu sesuai dengan keinginannya. Pengejar/tutor memang tidak memperbolehkan
tapi setiap orang tua dari anak-anak itu selalu menuruti anaknya dan akhirnya
dengan terpaksa tutor selalu memberikan izin. Tapi untuk aspek perkembangan
lainnya seperti perkembangan kognitif, fisik-motorik, bahasa dan sosial sudah
terlihat akan tetapi menurut saya pembelajarannya lebih dominan kearah
kognitif.
3 Berorientasi pada kebutuhan anak,
menurut saya Paud R.A. Kartini belum memiliki prinsip pembeajaran yang
berorientasi pada kebutuhan anak karena dari yang saya lihat dalam
pembelajarannya tidak sesuai dengan kebutuhan anak terlihat dari adanya kelas
saja hanya ada satu dan itu berarti anak yang kisaran berusia 3-6 disatukan
menjadi satu kelas dan juga bukan karena itu saja tapi juga adanya tempat yang
terbatas (tidak memiliki gedung sendiri) dan jumlah siswa yang sedikit menjadi
faktor kenapa kelas disatukan. Dari sini maka pembelajaran yang berlangsung
sudah pasti tidak sesuai dengan kebutuhan anak karena pembelajaran yang
dibagikan disamaratakan.
4 Berpusat pada anak, dengan menggunakan
prinsip ini anak-anak akan menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran tapi yang
saya lihat dari hasil observasi paud R.A. Kartini kurang begitu menggunakan
prinsip pembelajaran yang berpusat pada anak karena pengajar sering menggunakan
metode berceramah akhirnya keaktifan anak tidak terlihat, tetapi saat observasi saya melihat setiap
harinya dalam kegiatan pembelajaran pengajar menunjuk satu per satu anak unuk maju
kedepan kelas dan meminta anak untuk berhitung atau membaca huruf/abjad, maupun
bernyanyi, dan ternyata ada efek positif dari hal tersebut yaitu rata-rata anak
menjadi berani bahkan mereka selalu ingin menjadi orang yang pertama ditunjuk
oleh pengajar/tutor.
5 Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan (PAKEM), dari hasil
observasi yang saya lakukan Paud R.A. Kartini ini tidak menggunakan prinsip ini
karena sudah jelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pembelajaran pada setiap
harinya monoton dan hanya sesekali dalam seminggu terjadinya pembelajaran yang
menyenangkan tapi dengan adanya anak-anak yang ingin selalu maju didepan kelas
itu menunjukkkan bahwa anak-anak senang dengan aktivitas pembelajaran yang
dilakukan.
6 Berorientasi pada pengembangan
nilai-nilai karakter, setelah saya mengobservasi, saya tidak menemukan bahwa
Paud R.A. Kartini memiliki prinsip yang berorientasi pada pengembangan
nilai-nilai karakter hal ini terlihat pada sikap anak-anak yang kurang
mendapatkan stimulus terhadap perkembangan moralnya, seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya masih ada banyak anak yang belum memiliki kesadaran didalam
pembelajaran yang berlangsung selain jajan ada juga anak-anak yang selalu
jalan-jalan saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
7 Berorientasi pada pengembangan kecakapan
hidup, dari yang saya lihat Paud R.A. Kartini belum menggunakan prinsip
pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup karena sulit
untuk menerapkannya apalagi masih ada beberapa anak yang masih harus didampingi
oleh orang tuanya. Akan tetapi pernah saya melihat (walaupun itu bukan waktu
saya untuk observasi) kegiatan pembelajaran pada saat itu menggunakan metode
bermain peran meskipun sederhana yaitu dengan adanya media telur mainan dan
bola mainan disitu anak-anak berperan menjadi penjual dan pembeli dan uang yang
digunakan pun uang mainan, tapi dari situ kita bisa melihat bahwa hal itu juga
sebenarnya merupakan pengembangan kecakapan hidup.
8 Didukung oleh lingkungan yang kondusif,
meskipun lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan
menyenangkan sehingga anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam
maupun di luar ruangan dan penataan ruang belajarpun harus disesuaikan dengan
ruang gerak anak dalam bermain akan tetapi sulit untuk mewujudkan hal itu
karena Paud R.A. Kartini belum memiliki banyak fasilitas yang memadai untuk hal
itu, ruang belajarnya saja berada di garasi tapi walaupun demikian masih ada
sedikitnya fasilitas seperti ayunan dan jungkat-jungkit yang membuat anak-anak
senang.
9 Memanfaatkan potensi lingkungan, dari
hasil observasi Paud R.A. Kartini memiliki prinsip pembelajaran yang
memanfaatkan potensi lingkungan hal ini terlihat dari adanya aktivitas yang
dilakukan pada saat bermain diluar kelas dan mengambil batu-batu kecil itu
untuk menyusun batu menjadi huruf tersebut. Disitu kita bisa melihat bahwa yang
ada dilingkungan oleh pengajar dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran.
1 Menggunakan pendekatan tematik, dari
hasil observasi yang saya lakukan, Paud R.A. Kartini tidak menggunakan
pendekatan tematik seperti TK atau Paud lainnya. Tapi yang digunakan adalah
dengan menggunakan mata pelajaran seperti pembelajaran yang selayaknya di SD,
SMP, ataupun SMA. Walaupun demikian akan tetapi pelajaran yang diambil sesuai
dengan usia anak. Jadwalnya meliputi : hari senin adalah pelajaran mengenal
huruf/abjad/alphabet, dan selasa adalah pelajaran mengenal angka (berhitung),
hari rabu pelajarannya adalah agama (mengenal huruf-huruf hijaiyah dan
mengajarkan doa-doa), di hari kamis ada pelajaran olahraga (senam dan bermain),
dan dihari jumat adalah lebih ke agama lagi yaitu belajar mengaji.
BAB IV
KESIMPULAN
Berawal
dari seorang anak yang memiliki keterlambatan bicara dan gangguan perilaku
membuat seorang ibu menjadi peduli terhadap anak-anak dan dengan usahanya Ibu
Nurhasanah berhasil mendirikan Paud yang bernama RADEN AJENG KARTINI, karena
keterbatasan kreativitas dan wawasan pengajar/tutor, dari kesemua prinsip
pembelajaran yang ada sebenarnya Paud R.A. Kartini tanpa disadari sudah
memiliki dan menggunakan prinsip-prinsip tersebut hanya saja ada satu prinsip
yang belum dimiliki dan belum digunakan yaitu untuk memenuhi prinsip
pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter.