Translate

Cari Blog Ini

Sabtu, 05 Desember 2015

Cerpen

ceritanya lagi belajar buat cerpen inipun belum ada judul, so bagi teman-teman yang membaca ini beri masukan buat judul atau yang lainnya juga boleh karena saya masih awam dalam menulis hehe.....

silahkan dibaca dan selamat membaca ;)

Seperti biasanya saat guru menerangkan materi Deny selalu tak memperhatikannya, ia justru asyik mendengarkan musik dengan menggunakan headset di telinganya. Ketika sang guru menyadari bahwa Deny tidak memperhatikannya pak Eko (guru tersebut) langsung memanggil dan menyuruh Deny untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis “Deny” pak Eko memanggil, tapi rupanya Deny tak mendengar karena headset yang terpasang di telinganya cukup keras lalu pak Eko pun berteriak “Deny”barulah Deny mendengar bahwa pak Eko memanggilnya “hah iya pak” Deny kaget dan terlihat seperti orang yang tidak tahu apa-apa. “coba kamu maju ke depan dan kerjakan soal yang ada di depan itu” dengan nada cukup marah pak Eko menyuruh Deny. Deny pun maju ke depan dengan ekspresi yang santai untuk menutupi kegugupannya. Dia berjalan dengan santai padahal dia sama sekali tidak bisa mengerjakan soal yang ada di depan/papan tulis. “haduh gimana jawabnya nih soalnya aja gue gak ngerti” gumam Deny dalam hatinya. Didepan Deny berdiri cukup lama dengan memegang spidol dan memandangi soal yang dia tidak pahami, akhirnya pak Eko pun berkata “yasudah kalo tidak bisa biarkan murid yang lain yang mengerjakan. Tapi sebagai gantinya kamu bapak hukum, kamu tidak boleh mengikuti pelajaran bapak silahkan keluar, satu lagi selama diluar kamu tidak boleh kemana-mana kamu harus berdiri selama pelajaran bapak berlangsung sampai jam istirahat”. Deny keluar kelas dengan wajah sedikit manyun tapi ada untungnya juga buat dia, dia bersyukur tidak mengikuti pelajaran pak Eko (fisika) yang tidak ia sukai.
Setelah hari itu berlalu keesokkan harinya Deny yang selalu kesiangan ke sekolah hendak masuk ke kelas, sebelum sampai di kelas Deny bertemu seorang siswa perempuan yang baru pertama kali ia lihat dan perempuan itu memakai seragam sekolah yang sama dengannya, perempuan itu sebenarnya melihat Deny dan tersenyum padanya tapi Deny tidak menyapanya bahkan senyuman si perempuan tadi pun tidak di balas olehnya. Deny memang seorang siswa yang sangat cuek dan jutek terhadap perempuan. Setelah bel berbunyi kebetulan jam pertamanya adalah pelajaran fisika lagi, pak Eko langsung datang ke kelas dengan membawa seorang siswa perempuan yang tidak lain adalah perempuan yang dijumpai Deny tadi pagi sebelum bel. “anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru di kelas ini, ayo perkenalkan dirimu nak” kata pak Eko.
“Nama saya Gysa Rianti tapi panggil saja saya Gysa, saya pindahan dari Palembang. Terima kasih” Gysa memperkenalkan diri dengan singkat. “baiklah bapak rasa sudah cukup perkenalannya, silahkan duduk Gysa” Gysa langsung mengambil tempat duduk di sebelah Deny. Dia memilih duduk dengan Deny karena dia penasaran dengan seorang Deny yang super cuek kepadanya dan kebetulan saat itu Deny sedang duduk sendiri karena teman sebangkunya sedang sakit. Setelah pelajaran pak Eko selesai Gysa yang penasaran dengan Deny langsung menyapa dan berkenalan dengan teman sebangkunya itu.
“hai” sapa Gysa tapi Deny hanya menjawab dengan senyuman yang sangat minimalis
“nama gue Gysa, nama lo siapa?”
“ gue udah tau, nama gue Deny” jawab Deny dengan jutek
“ya takutnya tadi gak denger, oh Deny”
“emang gue budeg apa” sambung Deny
“yee marah, yaudah maap”
Deny kemudian pergi meninggalkan Gysa “ mau kemana?” Tanya Gysa
“gue mau ke kantin” jawab Deny masih jutek
“gue boleh ikut?”
“terserah lo”
“yaudah gue ikut yah”
Akhirnya mereka berdua pergi ke kantin, dalam perjalanan menuju kantin tidak banyak perbincangan diantara mereka bahkan sedikit pembicaraan itu pun di dominasi oleh Gysa yang selalu bertanya tentang Deny dan sekolah barunya itu.
“lo cerewet yah dari tadi nanya-nanya mulu”
“yaa kan gue pengen tau sekolah ini tuh kayak gimana” kata Gysa
“trus tadi kenapa nanya-nanya tentang gue?”
“pengen tau ajah” jawab Gysa simple sambil tersenyum
Setelah di kantin mereka kemudian makan bersama Gysa pun masih berbicara dengan Deny tapi Deny hanya diam dan asyik dengan makanannya sendiri. Hingga akhirnya bel masuk berbunyi “udah bel nih masuk kelas yuk” ajak Gysa
“santai aja kali, lo duluan aja sono”
“ayo nanti kita telat” Gysa agak memaksakan
“iya-iya bawel lo”
Mereka kemudian masuk kelas dan mulai belajar kembali dan beberapa jam kemudian bel pulang berbunyi, akhirnya semua siswa di sekolah tersebut keluar kelas dan berbondong-bondong menuju gerbang sekolah yang sudah dibuka untuk pulang, tak terkecuali dengan Deny dan Gysa. Mereka pun pulang kerumah masing-masing. Sampai di rumah Gysa bercerita kepada ibunya tentang Deny teman laki-lakinya yang cuek itu.
“mah di sekolah aku duduk sama cowok loh mah”
“trus kamu ngga papa?”
“si mamah kenapa nanya nya gitu?”
“yah kan tau sendiri cowok itu kayak gimana”
“ya engga lah mah, ini tuh beda cowoknya”
“beda gimana maksudnya?”
“ya beda dari cowok-cowok lainnya. kan biasanya cowok itu genit sama cewek, tapi ini beda banget mah boro-boro genit sama Gysa senyum aja susah, tadi pagi juga baru ketemu dia nih yang pertama kalinya sekali-kalinya ketemu dia, Gysa senyumin dia, dia malah berlalu begitu aja”
“oh ya? Aduh kasian anak mamah di cuekin”
“ih si mamah”
Sebenarnya disaat bersamaan Deny juga memikirkan Gysa, dia membayangkan pertama kali dia melihat Gysa yang tersenyum kepadanya. Di kamar dia senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu. “hush kok gue jadi mikirin cewek itu sih, kenapa bayangan dia gak ilang-ilang dari otak gue. Masa iya gue suka sama tuh cewek”
Deny sebenarnya suka pada Gysa tapi dia gengsi untuk mengakuinya, dan pada akhirnya Gysa lah yang selalu mendekatinya.
“Deny, lo kenapa sih cuek banget?”
“lo kenapa cerewet banget?”
“ye ditanya malah balik nanya”
Deny hanya diam sambil mengutak-atik handphone nya tapi Gysa yang ada di sebelah nya selalu memandanginya. “lo kenapa sih liatin gue kayak gitu?” tanya Deny. tapi Gysa tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dan terus menatap ke arah Deny
“lo kenapa liatin gue terus?”
Gysa lagi-lagi tidak menjawab dan hanya tersenyum
“lo kayak orang gagu ya?”
“kata lo tadi gue cerewet, yaudah gue diem”
“dasar cewek aneh”
“ngga papa dari pada lo cowok cuek, jutek lagi”
Kemudian mereka duduk saling membelakangi, saat handphone Deny berdering karena ada telepon Deny langsung pergi tanpa memberi tahu Gysa, Gysa pun tidak tahu kalau Deny pergi.
“Deny lo kenapa sih cuek banget sama cewek, lo gapernah ngobrol ya sama cewek? Sekali-kali lo ngobrol kek sama cewek biar lo tau cewek itu kayak gimana, Deny.. Deny... Lo mah kebiasaan kalo gue ngomong diem aja Den.. Deny.. ” setelah dipanggil-panggil tapi tidak ada jawaban akhirnya Gysa menengok ke belakang dan ternyata tak ada sosok Deny di hadapannya. “hhh dasar, gue udah ngomong panjang lebar dan lo gak ada, lo malah ngilang gitu aja dasar cowok nyebelin” Gysa hari itu juga memutuskan untuk puasa berbicara pada Deny.
Di kelas Gysa sedang duduk sendiri hingga akhirnya Deny datang dan menyuruhnya untuk pindah tempat duduk.
“eh lo, temen gue udah masuk sekolah. Lo pindah gih sono”
Gysa semakin kesal setelah Deny berbicara seperti itu, dia langsung pergi dengan wajah yang manyun maksimal.
“tumben dia gak ngomong apa-apa, duduk wo” kata Deny
“siapa tuh cewek? Murid baru?” tanya Dewo (taman Deny yang beberapa hari tidak sekolah karena sakit)
“iyah dua hari yang lalu dia baru masuk” jawab Deny
“jutek banget tuh cewek”
“hah jutek?? Dia itu cewek yang paling cerewet di kelas ini”
“heh udah tau dari tadi dia diem aja, trus mukanya jutek gitu. Cerewet dari mana?”
“dari kemarin-kemarin waktu lo gak sekolah”
“terus penyebab dia diem itu gue maksud lo?”
“Ahahaha mungkin, bisa jadi”
“serius gue men”
“gue juga gak serius men”jawab Deny bercanda
“susah ya ngomong sama lo”
Disisi lain Gysa terus memperhatikan Deny dan temannya si Dewo yang sedang ngomongin dia. Dia pun terheran-heran melihat Deny yang tertawa.
“hah dia bisa ketawa juga, kok pas sama gue jutek banget sih” dan tanpa dia sadari ternyata Deny memperhatikannya “kenapa tuh cewek ngomel-ngomel sendiri?” tanya Deny dalam hatinya.
Ketika Gysa melihat kearah Deny, Deny langsung membuang muka dan pura-pura tidak melihatnya.
Di kelas jam pelajaran PKNsedang kosong karena pak Andi guru yang mengajar PKN tersebut tidak masuk. Keadaan kelas pun jadi kacau balau tidak karuan, semua murid sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang ngobrol, mainan laptop, bahkan ada yang pacaran, tapi tak jarang juga ada yang baca buku, nulis-nulis ya walaupun nulis-nulis ngga jelas. Di tengah keramayan yang ada di kelas, Deny lebih terlihat melamun. “tuh cewek kenapa yah diem aja, dari tadi gak ngomong-ngomong. Dia kesambet apa yah sampe diem begitu” gumam Deny dalam hatinya. Untuk menuntaskan kepenasarannya Deny bertanya kepada teman sebangkunya itu yang kenal banget sama sifat cewek.
“wo lo tau gak penyebab cewek diem tiba-tiba?”
“cewek kalo lagi diem berarti dia lagi ngambek Den”
“oh gitu”
“lo gimana sih masa gak tau”
“ya lo kan tau kalo gue gak deket sama cewek”
“terus tadi kenapa nanyain tentang cewek?”
“gapapa kok nanya doang”
“aaaah gue tau nih, lo lagi suka sama cewek yah? Ayo ngaku”
“apaan sih lo, gue lagi gak suka sama siapa-siapa”
Terus di ejek temannya , Deny langsung keluar kelas untuk mencari udara segar dari kelasnya yang sumpek. Dia duduk di depan kelas dan masih memikirkan Gysa yang tiba-tiba diam. “dia ngambek karena apa ya? Apa gue punya salah sama dia? Persaan gak ada deh, aneh kok gue mikirin dia terus sih. Udah ah mau dia ngambek apa engga  bukan urusan gue, mending gue ke kantin dari pada cengo disini”
Gysa yang berada di kelas dari tadi sudah tidak memperhatikan Deny lagi, dia fokus membaca novel kesukaannya. Setelah membaca barulah ia sadar bahwa Deny tidak ada di kelas.
“kemana tuh cowok? Gue gak liat berapa puluh menit doang langsung ngilang, ngilang mulu kerjaannya” omel Gysa. “kayaknya gue mendingan diem aja deh kalo ada dia, masa gue terus yang mancing-mancing. Pokoknya harus dia yang ngomong duluan titik” lanjut Gysa lagi.
Bel pulang sudah berbunyi tapi Deny masih berada di kantin dan saat Deny balik menuju kelasnya, di jalan dia bertemu dengan Gysa yang sudah membawa tas ranselnya untuk pulang, mereka saling bertatapan tapi tak ada sapa menyapa dan senyum-senyuman. Gysa langsung membuang muka dan bergegas pulang. Deny pun semakin kebingungan dengan sifat Gysa yang berubah seperti bunglon “cewek aneh” kata Deny. Dia langsung ke kelas untuk mengambil tasnya, saat di kelas ada seorang cewek yang membereskan buku-buku Deny yang berserakan di mejanya. Saat cewek itu mau meletakkan bukunya ke tas. Deny masuk dan mengira cewek itu yang tidak-tidak. “ngapain lo, mau nyuri ya” bentak Deny.
“gak kok, gue cuma beresin buku lo yang berantakan itu doang. Nih tas lo” jawab cewek itu sambil memberikan tas ke Deny lalu pergi meninggalkannya.
“ris..” Deny memanggil cewek itu, cewek itu pun menengok
“makasih ya” ucap Deny
“sama-sama” jawab Risa
Saat Deny hendak mengambil motornya dan beranjak pulang di jalan dia melihat Risa yang sedang berjalan. Deny bingung karena tadi Risa baik sama dia dan gak enak kalo dia gak ngajak Risa. Akhirnya Deny berhenti dan mengajak Risa pulang bareng.
“Ris mau nebeng gak?”
“gak usah makasih, rumah gue udah deket kok”
“sekalian lewat Ris, lo kan tadi beresin buku gue, kata lo tadi udah deket yaudah biar cepet nyampe, cepetan”
“masih dipikirin aja soal itu, gapapa kali”
“ye ngomong aja lo, cepetan ikut gak”
“ngajak kok marah-marah sih, yaudah-yaudah gue ikut”
“yaudah cepetan naik”
“iyah-iyah sabar mas” jawab Risa sambil mengejek Deny dengan panggilan mas, tapi Deny tak masalah di ejek seperti itu. Mereka berdua akhirnya pulang bareng. Tanpa sengaja ternyata jalan menuju rumah Risa dan Deny melewati rumah Gysa, Gysa yang sedang menyiram tanaman di  depan rumahnya melihat Deny yang berboncengan dengan Risa. “itu Deny, kok sama Risa sih. Apa mereka pacaran? Masa sih?. Huaaa Deny jahat banget sih, sama gue dia cuek banget”
Setelah mengantar Risa, Deny langsung pulang kerumahnya. Sampai dirumah ternyata Deny masih memikirkan si cewek aneh itu yaitu Gysa, dia masih mencari-cari kesalahan yang dia lakukan tapi ternyata dia tidak menyadari kesalahannya saat dia membelakangi Gysa dan meninggalkannya di sekolah itu. Dia tidak pernah peka terhadap hal itu, dia menanggap hal itu hal yang biasa saja dan wajar terjadi tapi beda halnya jika perempuan yang menafsirkannya karena perempuan sangat sensitif sekalipun pada hal yang biasa atau wajar terjadi. Setelah berfikir cukup lama Deny memutuskan untuk langsung bertanya pada Gysa.
Keesokan harinya Deny langsung menghampiri Gysa
“Gys”
“apa?” jawab Gysa cuek seperti Deny
“lo kenapa diem aja kemarin?”
“ya suka-suka gue dong, mulut-mulut gue”
“kok sekarang malah tambah jutek?”
“ya kan gue udah bilang suka-suka gue”
“gue ada salah sama lo?”
“lo pikir aja sendiri” Gysa semakin jengkel dan pergi meniggalkan Deny
“tuh anak kenapa sih jadi jutek banget sekarang” kata Deny bertanya-tanya
Sambil bejalan Gysa selalu ngomel-ngomel sendiri “masa dia gak sadar sih apa kesalahan dia, gakpeka banget sih Deny” omel Gysa. Sementara di sisi lain Deny kebingungan memikirkan bagaimana mengetahui kesalahan dia pada Gysa. Deny pun tak kehilangan akal, dia akhirnya menceritakan semuanya pada Dewo, semua yang terjadi antara mereka berdua (Deny & Gysa) saat bersama. Dan Dewo pun menyarankan Deny untuk meminta maaf pada Gysa.
“kok lo nyuruh gue minta maaf?”
“lo kan udah cerita ke gue, katanya lo ninggalin dia kemarin-kemarin waktu lo sama dia saling membelakangi. Yaa itu kesalahan lo”
“yaelah itu kan karena ada telepon dari lo, masa gara-gara itu dia ngambek”
“iya gue tau, tapi cewek itu sensitif bro, masalah sekecil apapun bisa buat cewek sakit hati”
“masa iya marah gara-gara itu, kan dia bukan siapa-siapa gue”
“gue rasa dia suka sama lo, dan satu lagi gue udah bilang cewek itu sensitif”
“Gysa suka sama gue, apa mungkin?”
“kebanyakan mikir lo, lo kalo suka sama dia cepetan minta maaf sebelum dia berubah jadi benci sama lo”
“iya-iya gue bakal minta maaf”
Deny langsung pergi mendatangi Gysa di kelas.
“Gysa gue minta maaf ya sama lo”
“minta maaf buat apa?”
“waktu itu gue udah ninggalin lo”
Gysa terlihat senyum-senyum sendiri dan salah tingkah saat Deny meminta maaf
“gak papa kok, lupain aja masalah itu”
“jadi lo udah maafin gue?”
“iyah” dengan senyum lebar Gysa menjawabnya
Deny pun langsung membalas senyum Gysa yang manis.
“kok dia jadi salting yah saat gue minta maaf, jangan-jangan benar apa kata Dewo Gysa juga suka sama gue” gumam Deny dalam hati.
“yaudah gue pergi dulu yah”
“lo mau kemana?”
“Kekantin nyusul Dewo”
“yaudah” jawab Gysa
                Disepanjang jalan Deny masih bingung dengan Gysa “gue gak minta maaf: ngambek-ngambek gak jelas gitu, gue minta maaf: gak papa kok lupain aja masalah itu. (sambil meniru gaya berbicara Gysa) Apa semua cewek kayak begitu?, tapi tadi waktu dia senyum manis banget gak cocok sama sifanya yang cerewet” sedangkan disisi lain Gysa dikelas sedang lompat-lompat sambil menari-nari dalam meluapkan kegembiraannya, dia tidak peduli walaupun teman-teman dikelas menganggapnya aneh yang penting hari itu dia sangat senang sekali Deny akhirnya sudah meminta maaf padanya.
                Berbulan-bulan mereka diselimuti rasa gengsi akhirnya saat pulang sekolah mereka pulang bersama dan saat dijalan mereka saling memberitahu isi hati mereka masing-masing.
“Gysa maaf yah kalo selama ini gue gak pernah ngertiin lo”
“iyah, tapi jangan sering-sering juga dong”
“iya-iya, gue pengen ngomong sesuatu nih”
“ngomong aja kali, pake izin segala”
“gue,,,,, gue,,, gue,,,,,,”
“gue apa sih?”
“gue suka sama lo” Deny berbicara dengan cepat seperti terburu-buru
“hah?”
“kalo lo gak suka, yaudah lupain aja”
“gak tadi ngomongnya cepet banget”
“tapi  lo denger kan?”
“iyah gue tau lo ngomong apa”
“kalo lo gak suka yaudah gak papa, gak usah dipikirin”
“kok gitu sih? Masa belum dijawab udah nyerah”
“terus gue harus gimana?”
“yaa harusnya lo perjuangin cinta lo itu”
“gue serius nih, udah gemeteran gue ngomong kayak gitu, balesnya berbelit-belit”
“ok ok gue salut sama lo, lo itu cowok cuek yang bisa naklukin hati gue”
“jadi gue gak di tolak, gue diterima?”
Gysa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya mereka berpacaran dan entah apa yang teerjadi setelah lulus nanti apakah akan menghentikan hubungan mereka atau tetap bersatu walaupun akan terpisah jauh.



~See you ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar