ceritanya lagi belajar buat cerpen inipun belum ada judul, so bagi teman-teman yang membaca ini beri masukan buat judul atau yang lainnya juga boleh karena saya masih awam dalam menulis hehe.....
silahkan dibaca dan selamat membaca ;)
Seperti
biasanya saat guru menerangkan materi Deny selalu tak memperhatikannya, ia
justru asyik mendengarkan musik dengan menggunakan headset di telinganya.
Ketika sang guru menyadari bahwa Deny tidak memperhatikannya pak Eko (guru
tersebut) langsung memanggil dan menyuruh Deny untuk mengerjakan soal yang ada
di papan tulis “Deny” pak Eko memanggil, tapi rupanya Deny tak mendengar karena
headset yang terpasang di telinganya cukup keras lalu pak Eko pun berteriak
“Deny”barulah Deny mendengar bahwa pak Eko memanggilnya “hah iya pak” Deny
kaget dan terlihat seperti orang yang tidak tahu apa-apa. “coba kamu maju ke
depan dan kerjakan soal yang ada di depan itu” dengan nada cukup marah pak Eko
menyuruh Deny. Deny pun maju ke depan dengan ekspresi yang santai untuk
menutupi kegugupannya. Dia berjalan dengan santai padahal dia sama sekali tidak
bisa mengerjakan soal yang ada di depan/papan tulis. “haduh gimana jawabnya nih
soalnya aja gue gak ngerti” gumam Deny dalam hatinya. Didepan Deny berdiri
cukup lama dengan memegang spidol dan memandangi soal yang dia tidak pahami,
akhirnya pak Eko pun berkata “yasudah kalo tidak bisa biarkan murid yang lain
yang mengerjakan. Tapi sebagai gantinya kamu bapak hukum, kamu tidak boleh
mengikuti pelajaran bapak silahkan keluar, satu lagi selama diluar kamu tidak
boleh kemana-mana kamu harus berdiri selama pelajaran bapak berlangsung sampai
jam istirahat”. Deny keluar kelas dengan wajah sedikit manyun tapi ada
untungnya juga buat dia, dia bersyukur tidak mengikuti pelajaran pak Eko
(fisika) yang tidak ia sukai.
Setelah
hari itu berlalu keesokkan harinya Deny yang selalu kesiangan ke sekolah hendak
masuk ke kelas, sebelum sampai di kelas Deny bertemu seorang siswa perempuan
yang baru pertama kali ia lihat dan perempuan itu memakai seragam sekolah yang
sama dengannya, perempuan itu sebenarnya melihat Deny dan tersenyum padanya
tapi Deny tidak menyapanya bahkan senyuman si perempuan tadi pun tidak di balas
olehnya. Deny memang seorang siswa yang sangat cuek dan jutek terhadap perempuan.
Setelah bel berbunyi kebetulan jam pertamanya adalah pelajaran fisika lagi, pak
Eko langsung datang ke kelas dengan membawa seorang siswa perempuan yang tidak
lain adalah perempuan yang dijumpai Deny tadi pagi sebelum bel. “anak-anak hari
ini kita kedatangan murid baru di kelas ini, ayo perkenalkan dirimu nak” kata
pak Eko.
“Nama saya Gysa Rianti
tapi panggil saja saya Gysa, saya pindahan dari Palembang. Terima kasih” Gysa
memperkenalkan diri dengan singkat. “baiklah bapak rasa sudah cukup
perkenalannya, silahkan duduk Gysa” Gysa langsung mengambil tempat duduk di
sebelah Deny. Dia memilih duduk dengan Deny karena dia penasaran dengan seorang
Deny yang super cuek kepadanya dan kebetulan saat itu Deny sedang duduk sendiri
karena teman sebangkunya sedang sakit. Setelah pelajaran pak Eko selesai Gysa
yang penasaran dengan Deny langsung menyapa dan berkenalan dengan teman
sebangkunya itu.
“hai” sapa Gysa tapi
Deny hanya menjawab dengan senyuman yang sangat minimalis
“nama gue Gysa, nama lo
siapa?”
“ gue udah tau, nama gue
Deny” jawab Deny dengan jutek
“ya takutnya tadi gak
denger, oh Deny”
“emang gue budeg apa”
sambung Deny
“yee marah, yaudah maap”
Deny kemudian pergi
meninggalkan Gysa “ mau kemana?” Tanya Gysa
“gue mau ke kantin”
jawab Deny masih jutek
“gue boleh ikut?”
“terserah lo”
“yaudah gue ikut yah”
Akhirnya
mereka berdua pergi ke kantin, dalam perjalanan menuju kantin tidak banyak
perbincangan diantara mereka bahkan sedikit pembicaraan itu pun di dominasi
oleh Gysa yang selalu bertanya tentang Deny dan sekolah barunya itu.
“lo cerewet yah dari
tadi nanya-nanya mulu”
“yaa kan gue pengen tau
sekolah ini tuh kayak gimana” kata Gysa
“trus tadi kenapa
nanya-nanya tentang gue?”
“pengen tau ajah” jawab
Gysa simple sambil tersenyum
Setelah
di kantin mereka kemudian makan bersama Gysa pun masih berbicara dengan Deny
tapi Deny hanya diam dan asyik dengan makanannya sendiri. Hingga akhirnya bel
masuk berbunyi “udah bel nih masuk kelas yuk” ajak Gysa
“santai aja kali, lo
duluan aja sono”
“ayo nanti kita telat”
Gysa agak memaksakan
“iya-iya bawel lo”
Mereka
kemudian masuk kelas dan mulai belajar kembali dan beberapa jam kemudian bel
pulang berbunyi, akhirnya semua siswa di sekolah tersebut keluar kelas dan
berbondong-bondong menuju gerbang sekolah yang sudah dibuka untuk pulang, tak
terkecuali dengan Deny dan Gysa. Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
Sampai di rumah Gysa bercerita kepada ibunya tentang Deny teman laki-lakinya
yang cuek itu.
“mah di sekolah aku
duduk sama cowok loh mah”
“trus kamu ngga papa?”
“si mamah kenapa nanya
nya gitu?”
“yah kan tau sendiri
cowok itu kayak gimana”
“ya engga lah mah, ini
tuh beda cowoknya”
“beda gimana maksudnya?”
“ya beda dari
cowok-cowok lainnya. kan biasanya cowok itu genit sama cewek, tapi ini beda
banget mah boro-boro genit sama Gysa senyum aja susah, tadi pagi juga baru
ketemu dia nih yang pertama kalinya sekali-kalinya ketemu dia, Gysa senyumin
dia, dia malah berlalu begitu aja”
“oh ya? Aduh kasian anak
mamah di cuekin”
“ih si mamah”
Sebenarnya
disaat bersamaan Deny juga memikirkan Gysa, dia membayangkan pertama kali dia
melihat Gysa yang tersenyum kepadanya. Di kamar dia senyum-senyum sendiri
membayangkan hal itu. “hush kok gue jadi mikirin cewek itu sih, kenapa bayangan
dia gak ilang-ilang dari otak gue. Masa iya gue suka sama tuh cewek”
Deny sebenarnya suka
pada Gysa tapi dia gengsi untuk mengakuinya, dan pada akhirnya Gysa lah yang
selalu mendekatinya.
“Deny, lo kenapa sih
cuek banget?”
“lo kenapa cerewet
banget?”
“ye ditanya malah balik
nanya”
Deny
hanya diam sambil mengutak-atik handphone nya tapi Gysa yang ada di sebelah nya
selalu memandanginya. “lo kenapa sih liatin gue kayak gitu?” tanya Deny. tapi
Gysa tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dan terus menatap ke
arah Deny
“lo kenapa liatin gue
terus?”
Gysa lagi-lagi tidak
menjawab dan hanya tersenyum
“lo kayak orang gagu
ya?”
“kata lo tadi gue
cerewet, yaudah gue diem”
“dasar cewek aneh”
“ngga papa dari pada lo
cowok cuek, jutek lagi”
Kemudian
mereka duduk saling membelakangi, saat handphone Deny berdering karena ada
telepon Deny langsung pergi tanpa memberi tahu Gysa, Gysa pun tidak tahu kalau
Deny pergi.
“Deny lo kenapa sih cuek
banget sama cewek, lo gapernah ngobrol ya sama cewek? Sekali-kali lo ngobrol
kek sama cewek biar lo tau cewek itu kayak gimana, Deny.. Deny... Lo mah
kebiasaan kalo gue ngomong diem aja Den.. Deny.. ” setelah dipanggil-panggil
tapi tidak ada jawaban akhirnya Gysa menengok ke belakang dan ternyata tak ada
sosok Deny di hadapannya. “hhh dasar, gue udah ngomong panjang lebar dan lo gak
ada, lo malah ngilang gitu aja dasar cowok nyebelin” Gysa hari itu juga
memutuskan untuk puasa berbicara pada Deny.
Di
kelas Gysa sedang duduk sendiri hingga akhirnya Deny datang dan menyuruhnya
untuk pindah tempat duduk.
“eh lo, temen gue udah masuk
sekolah. Lo pindah gih sono”
Gysa semakin kesal
setelah Deny berbicara seperti itu, dia langsung pergi dengan wajah yang manyun
maksimal.
“tumben dia gak ngomong
apa-apa, duduk wo” kata Deny
“siapa tuh cewek? Murid
baru?” tanya Dewo (taman Deny yang beberapa hari tidak sekolah karena sakit)
“iyah dua hari yang lalu
dia baru masuk” jawab Deny
“jutek banget tuh cewek”
“hah jutek?? Dia itu
cewek yang paling cerewet di kelas ini”
“heh udah tau dari tadi
dia diem aja, trus mukanya jutek gitu. Cerewet dari mana?”
“dari kemarin-kemarin
waktu lo gak sekolah”
“terus penyebab dia diem
itu gue maksud lo?”
“Ahahaha mungkin, bisa
jadi”
“serius gue men”
“gue juga gak serius
men”jawab Deny bercanda
“susah ya ngomong sama
lo”
Disisi
lain Gysa terus memperhatikan Deny dan temannya si Dewo yang sedang ngomongin
dia. Dia pun terheran-heran melihat Deny yang tertawa.
“hah dia bisa ketawa
juga, kok pas sama gue jutek banget sih” dan tanpa dia sadari ternyata Deny
memperhatikannya “kenapa tuh cewek ngomel-ngomel sendiri?” tanya Deny dalam
hatinya.
Ketika Gysa melihat
kearah Deny, Deny langsung membuang muka dan pura-pura tidak melihatnya.
Di
kelas jam pelajaran PKNsedang kosong karena pak Andi guru yang mengajar PKN
tersebut tidak masuk. Keadaan kelas pun jadi kacau balau tidak karuan, semua
murid sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang ngobrol, mainan laptop,
bahkan ada yang pacaran, tapi tak jarang juga ada yang baca buku, nulis-nulis
ya walaupun nulis-nulis ngga jelas. Di tengah keramayan yang ada di kelas, Deny
lebih terlihat melamun. “tuh cewek kenapa yah diem aja, dari tadi gak
ngomong-ngomong. Dia kesambet apa yah sampe diem begitu” gumam Deny dalam
hatinya. Untuk menuntaskan kepenasarannya Deny bertanya kepada teman
sebangkunya itu yang kenal banget sama sifat cewek.
“wo lo tau gak penyebab
cewek diem tiba-tiba?”
“cewek kalo lagi diem
berarti dia lagi ngambek Den”
“oh gitu”
“lo gimana sih masa gak
tau”
“ya lo kan tau kalo gue
gak deket sama cewek”
“terus tadi kenapa
nanyain tentang cewek?”
“gapapa kok nanya doang”
“aaaah gue tau nih, lo
lagi suka sama cewek yah? Ayo ngaku”
“apaan sih lo, gue lagi
gak suka sama siapa-siapa”
Terus
di ejek temannya , Deny langsung keluar kelas untuk mencari udara segar dari
kelasnya yang sumpek. Dia duduk di depan kelas dan masih memikirkan Gysa yang
tiba-tiba diam. “dia ngambek karena apa ya? Apa gue punya salah sama dia?
Persaan gak ada deh, aneh kok gue mikirin dia terus sih. Udah ah mau dia
ngambek apa engga bukan urusan gue,
mending gue ke kantin dari pada cengo disini”
Gysa
yang berada di kelas dari tadi sudah tidak memperhatikan Deny lagi, dia fokus
membaca novel kesukaannya. Setelah membaca barulah ia sadar bahwa Deny tidak
ada di kelas.
“kemana tuh cowok? Gue
gak liat berapa puluh menit doang langsung ngilang, ngilang mulu kerjaannya”
omel Gysa. “kayaknya gue mendingan diem aja deh kalo ada dia, masa gue terus
yang mancing-mancing. Pokoknya harus dia yang ngomong duluan titik” lanjut Gysa
lagi.
Bel
pulang sudah berbunyi tapi Deny masih berada di kantin dan saat Deny balik menuju
kelasnya, di jalan dia bertemu dengan Gysa yang sudah membawa tas ranselnya
untuk pulang, mereka saling bertatapan tapi tak ada sapa menyapa dan
senyum-senyuman. Gysa langsung membuang muka dan bergegas pulang. Deny pun
semakin kebingungan dengan sifat Gysa yang berubah seperti bunglon “cewek aneh”
kata Deny. Dia langsung ke kelas untuk mengambil tasnya, saat di kelas ada
seorang cewek yang membereskan buku-buku Deny yang berserakan di mejanya. Saat
cewek itu mau meletakkan bukunya ke tas. Deny masuk dan mengira cewek itu yang
tidak-tidak. “ngapain lo, mau nyuri ya” bentak Deny.
“gak kok, gue cuma
beresin buku lo yang berantakan itu doang. Nih tas lo” jawab cewek itu sambil
memberikan tas ke Deny lalu pergi meninggalkannya.
“ris..” Deny memanggil
cewek itu, cewek itu pun menengok
“makasih ya” ucap Deny
“sama-sama” jawab Risa
Saat
Deny hendak mengambil motornya dan beranjak pulang di jalan dia melihat Risa
yang sedang berjalan. Deny bingung karena tadi Risa baik sama dia dan gak enak
kalo dia gak ngajak Risa. Akhirnya Deny berhenti dan mengajak Risa pulang
bareng.
“Ris mau nebeng gak?”
“gak usah makasih, rumah
gue udah deket kok”
“sekalian lewat Ris, lo
kan tadi beresin buku gue, kata lo tadi udah deket yaudah biar cepet nyampe,
cepetan”
“masih dipikirin aja
soal itu, gapapa kali”
“ye ngomong aja lo,
cepetan ikut gak”
“ngajak kok marah-marah
sih, yaudah-yaudah gue ikut”
“yaudah cepetan naik”
“iyah-iyah sabar mas”
jawab Risa sambil mengejek Deny dengan panggilan mas, tapi Deny tak masalah di
ejek seperti itu. Mereka berdua akhirnya pulang bareng. Tanpa sengaja ternyata
jalan menuju rumah Risa dan Deny melewati rumah Gysa, Gysa yang sedang menyiram
tanaman di depan rumahnya melihat Deny
yang berboncengan dengan Risa. “itu Deny, kok sama Risa sih. Apa mereka
pacaran? Masa sih?. Huaaa Deny jahat banget sih, sama gue dia cuek banget”
Setelah
mengantar Risa, Deny langsung pulang kerumahnya. Sampai dirumah ternyata Deny
masih memikirkan si cewek aneh itu yaitu Gysa, dia masih mencari-cari kesalahan
yang dia lakukan tapi ternyata dia tidak menyadari kesalahannya saat dia
membelakangi Gysa dan meninggalkannya di sekolah itu. Dia tidak pernah peka
terhadap hal itu, dia menanggap hal itu hal yang biasa saja dan wajar terjadi
tapi beda halnya jika perempuan yang menafsirkannya karena perempuan sangat
sensitif sekalipun pada hal yang biasa atau wajar terjadi. Setelah berfikir
cukup lama Deny memutuskan untuk langsung bertanya pada Gysa.
Keesokan
harinya Deny langsung menghampiri Gysa
“Gys”
“apa?” jawab Gysa cuek
seperti Deny
“lo kenapa diem aja
kemarin?”
“ya suka-suka gue dong,
mulut-mulut gue”
“kok sekarang malah
tambah jutek?”
“ya kan gue udah bilang
suka-suka gue”
“gue ada salah sama lo?”
“lo pikir aja sendiri”
Gysa semakin jengkel dan pergi meniggalkan Deny
“tuh anak kenapa sih
jadi jutek banget sekarang” kata Deny bertanya-tanya
Sambil bejalan Gysa
selalu ngomel-ngomel sendiri “masa dia gak sadar sih apa kesalahan dia, gakpeka
banget sih Deny” omel Gysa. Sementara di sisi lain Deny kebingungan memikirkan
bagaimana mengetahui kesalahan dia pada Gysa. Deny pun tak kehilangan akal, dia
akhirnya menceritakan semuanya pada Dewo, semua yang terjadi antara mereka
berdua (Deny & Gysa) saat bersama. Dan Dewo pun menyarankan Deny untuk
meminta maaf pada Gysa.
“kok lo nyuruh gue minta
maaf?”
“lo kan udah cerita ke
gue, katanya lo ninggalin dia kemarin-kemarin waktu lo sama dia saling
membelakangi. Yaa itu kesalahan lo”
“yaelah itu kan karena
ada telepon dari lo, masa gara-gara itu dia ngambek”
“iya gue tau, tapi cewek
itu sensitif bro, masalah sekecil apapun bisa buat cewek sakit hati”
“masa iya marah
gara-gara itu, kan dia bukan siapa-siapa gue”
“gue rasa dia suka sama
lo, dan satu lagi gue udah bilang cewek itu sensitif”
“Gysa suka sama gue, apa
mungkin?”
“kebanyakan mikir lo, lo
kalo suka sama dia cepetan minta maaf sebelum dia berubah jadi benci sama lo”
“iya-iya gue bakal minta
maaf”
Deny
langsung pergi mendatangi Gysa di kelas.
“Gysa gue minta maaf ya
sama lo”
“minta maaf buat apa?”
“waktu itu gue udah
ninggalin lo”
Gysa terlihat
senyum-senyum sendiri dan salah tingkah saat Deny meminta maaf
“gak papa kok, lupain
aja masalah itu”
“jadi lo udah maafin
gue?”
“iyah” dengan senyum
lebar Gysa menjawabnya
Deny pun langsung
membalas senyum Gysa yang manis.
“kok dia jadi salting
yah saat gue minta maaf, jangan-jangan benar apa kata Dewo Gysa juga suka sama
gue” gumam Deny dalam hati.
“yaudah gue pergi dulu
yah”
“lo mau kemana?”
“Kekantin nyusul Dewo”
“yaudah” jawab Gysa
Disepanjang jalan Deny masih bingung dengan Gysa “gue
gak minta maaf: ngambek-ngambek gak jelas gitu, gue minta maaf: gak papa kok
lupain aja masalah itu. (sambil meniru gaya berbicara Gysa) Apa semua cewek
kayak begitu?, tapi tadi waktu dia senyum manis banget gak cocok sama sifanya
yang cerewet” sedangkan disisi lain Gysa dikelas sedang lompat-lompat sambil
menari-nari dalam meluapkan kegembiraannya, dia tidak peduli walaupun teman-teman
dikelas menganggapnya aneh yang penting hari itu dia sangat senang sekali Deny
akhirnya sudah meminta maaf padanya.
Berbulan-bulan mereka diselimuti rasa gengsi akhirnya
saat pulang sekolah mereka pulang bersama dan saat dijalan mereka saling
memberitahu isi hati mereka masing-masing.
“Gysa maaf yah kalo
selama ini gue gak pernah ngertiin lo”
“iyah, tapi jangan
sering-sering juga dong”
“iya-iya, gue pengen
ngomong sesuatu nih”
“ngomong aja kali, pake
izin segala”
“gue,,,,, gue,,,
gue,,,,,,”
“gue apa sih?”
“gue suka sama lo” Deny
berbicara dengan cepat seperti terburu-buru
“hah?”
“kalo lo gak suka,
yaudah lupain aja”
“gak tadi ngomongnya
cepet banget”
“tapi lo denger kan?”
“iyah gue tau lo ngomong
apa”
“kalo lo gak suka yaudah
gak papa, gak usah dipikirin”
“kok gitu sih? Masa
belum dijawab udah nyerah”
“terus gue harus
gimana?”
“yaa harusnya lo
perjuangin cinta lo itu”
“gue serius nih, udah
gemeteran gue ngomong kayak gitu, balesnya berbelit-belit”
“ok ok gue salut sama
lo, lo itu cowok cuek yang bisa naklukin hati gue”
“jadi gue gak di tolak,
gue diterima?”
Gysa hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya mereka berpacaran dan entah apa yang
teerjadi setelah lulus nanti apakah akan menghentikan hubungan mereka atau
tetap bersatu walaupun akan terpisah jauh.
~See
you ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar